Monthly Outlook Maret 2018

Global Economic Outlook
• Dalam testimoninya di hadapan kongres dan senat AS, Chairman The Fed Jerome Powell juga mengisyaratkan bahwa inflasi pada tahun ini akan lebih tinggi. Sehingga pasar menerjemahkannya akan terjadi kenaikan suku bunga The Fed sebanyak empat kali pada tahun ini, lebih banyak dari perkiraan sebelumnya yang sebanyak tiga kali. Presiden The Fed New York menyatakan kenaikan suku bunga sebanyak empat kali pada tahun ini akan terjadi secara bertahap.
• Presiden Trump akan memberlakukan tarif impor terhadap produk baja dan aluminium yang masuk AS, masing-masing sebesar 25% dan 10%. Hal itu dilakukan dengan maksud untuk melindungi produsen baja dalam negeri AS. Namun hal tersebut dikhawatirkan akan mendorong kenaikan ongkos produksi bagi produsen otomotif, penerbangan, industri minyak serta produk manufaktur lainnya. Kenaikan biaya produksi juga akan mendorong terjadinya inflasi. Kebijakan tersebut juga memicu pembalasan dari negara-negara lain sehingga berpotensi memicu perang dagang.

Domestic Economic Outlook

• Bank Indonesia melihat sejumlah risiko yang perlu diwaspadai pada tahun ini, baik yang bersumber dari eksternal maupun internal. Risiko eksternal diantaranya berasal dari peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global terkait ekspektasi kenaikan Fed Fund Rate (FFR) yang lebih tinggi dari perkiraan dan kenaikan harga minyak mentah dunia. Sedangkan risiko dari dalam negeri diantaranya konsolidasi korporasi yang berlanjut, intermediasi perbankan yang belum kuat serta adanya risiko inflasi.
• Meningkatnya ketidakpastian kenaikan FFR yang diperkirakan lebih tinggi dari yang diperkirakan telah mendorong pelemahan rupiah pada bulan Februari lalu. Selama bulan Februari saja, rupiah telah melemah 2,45% mom pada level Rp13705 per usd. Perkembangan dari FFR serta ketahanan ekonomi domestik akan mempengaruhi pergerakan rupiah selanjutnya pada bulan Maret ini. The Fed akan melakukan pertemuan pada 20-21 Maret yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga The Fed sebesar 0,25%.

Indices Performance as of February 2018

• Selama bulan Februari 2018 lalu, rata-rata indeks bursa global mengalami koreksi akibat sentimen negatif dari koreksi signifikan bursa Wall Street karena kekhawatiran kenaikan suku bunga The Fed pada tahun ini akan lebih banyak dari perkiraan sebelumnya. Indeks SET Thailand satu-satunya indeks yang membukukan kinerja positif yaitu +0,51% mom. Sedangkan indeks yang mengalami koreksi terbesar adalah Shanghai Composite yaitu -6,36% mom.
• Selama periode Januari-Februari 2018, Nasdaq Composite membukukan kinerja terbaik, yaitu meningkat 5,35% ytd. Sedangkan yang mengalami kinerja terburuk adalah indeks FTSE 100 yaitu melemah 5,93% ytd. Untuk indeks Dow Jones dan S&P500 masing-masing membukukan kenaikan sebesar 1,25% dan 1,5% ytd.
• Pada bulan Februari 2018, IHSG mengalami koreksi sebesar 0,13% mom. Untuk periode Januari-Februari 2018, IHSG tercatat mengalami kenaikan 3,8% ytd, yang merupakan kinerja terbaik ketiga setelah Nasdaq Composite dan indeks SET Thailand. Kenaikan harga komoditas serta ekspektasi akan ekonomi dan laporan keuangan yang membaik menjadi faktor positif pendorong kenaikan IHSG.
• Selama bulan Februari 2018, saham sektor perkebunan mengalami kenaikan terbesar seiring dengan kenaikan harga CPO. Untuk periode Januari-Februari 2018, sektor pertambangan masih membukukan kinerja terbaik.

Market Outlook On March 2018

• Pergerakan indeks di bursa Wall Street pada bulan Maret diperkirakan masih akan berfluktuasi tinggi. Pasar akan mencermati pertemuan The Fed pada 20-21 Maret 2018, dimana diperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 0,25%. Selain itu pasar akan mencermati komentar The Fed setelah pertemuan tersebut, untuk mencari indikasi potensi kenaikan suku bunga The Fed berikutnya pada tahun ini. Ketidakpastian pergerakan pasar juga akan dipengaruhi oleh rencana Trump untuk memberlakukan tarif impor baja dan aluminium di AS, yang dikhawatirkan berpotensi mendorong inflasi di AS serta memicu perang dagang di pasar internasional.
• Pergerakan IHSG diperkirakan selain dipengaruhi oleh pergerakan indeks bursa global juga akan dipengaruhi oleh ekspektasi perkembangan fundamental ekonomi Indonesia dan laporan keuangan emiten. Dampak kenaikan FFR terhadap Indonesia adalah potensi pelemahan rupiah terhadap dollar AS, yang dapat menyebabkan adanya inflasi dari barang-barang impor. Namun selama inflasi domestik masih di bawah kisaran BI, diperkirakan BI 7 day RR rate akan tetap. Namun jika rupiah berlanjut mengalami depresiasi, diperkirakan BI berpeluang menaikkan suku bunga pada tahun ini. Perlu diwaspadai dampak pelemahan rupiah terhadap emiten yang bahan bakunya diimpor serta emiten yang banyak memiliki utang valas. Sedangkan emiten yang banyak melakukan ekspor akan diuntungkan dari pelemahan dollar AS.
• Untuk target IHSG pada akhir tahun 2018 masih pada level 6.823 dengan asumsi PE rata-rata 22x. Dari level akhir tahun 2017, kenaikan IHSG diperkirakan sekitar 7,36% YoY.
• Beberapa sektor yang perlu dicermati diantaranya perbankan (BBNI, BMRI, BBRI, BBTN, BBCA), infrastruktur (JSMR, PGAS), konstruksi (PTPP, WIKA, WSKT, WSBP, WTON, PPRE, WEGE), pertambangan (ADRO, PTBA, ITMG, HRUM, MEDC, ANTM, TINS, UNTR) dan konsumsi (ASII, INDF, ICBP).

Technical View

• Cermati saham INDF, LSIP, PTPP, BBRI, BBTN, WIKA, TLKM


Disclaimer:


This report is prepared strictly for private circulation only to clients of PT Waterfront Sekuritas Indonesia. It is purposed only to person having professional experience in matters relating to investments. The information contained in this report has been taken from sources which we deem reliable. No warranty (express or implied) is made to the accuracy or completeness of the information. All opinions and estimates included in this report constitute our judgments as of this date, without regards to its fairness, and are subject to change without notice. However, none of PT Waterfront Sekuritas Indonesia and/or its affiliated companies and/or their respective employees and/or agents makes any representation or warranty (express or implied) or accepts any responsibility or liability as to, or in relation to, the accuracy or completeness of the information and opinions contained in this report or as to any information contained in this report or any other such information or opinions remaining unchanged after the issue thereof. We expressly disclaim any responsibility or liability (express or implied), its affiliated companies and their respective employees and agents whatsoever and howsoever arising (including, without limitation for any claims, proceedings, action, suits, losses, expenses, damages or costs) which may be brought against or suffered by any person as a results of acting in reliance upon the whole or any part of the contents of this report and neither PT Waterfront Sekuritas Indonesia, its affiliated companies or their respective employees or agents accepts liability for any errors, omissions or misstatements, negligent or otherwise, in the report and any liability in respect of the report or any inaccuracy therein or omission there from which might otherwise arise is hereby expresses disclaimed.

This document is not an offer to sell or a solicitation to buy any securities. This firms and its affiliates and their officers and employees may have a position, make markets, act as principal or engage in transaction in securities or related investments of any company mentioned herein, may perform services for or solicit business from any company mentioned herein, and may have acted upon or used any of the recommendations herein before they have been provided to you. © PT Waterfront Sekuritas Indonesia 2018



Published on 2018-03-06 14:45:15 (GMT +7)

Global Info Regional

Global Info Currency

Global Info Commodity

Links

INFO

PT. Waterfront Sekuritas Indonesia
Memberikan layanan atas transaksi
Repurchase Agreement (REPO)"