Monthly Outlook Oktober 2017

Global Economic Outlook
• The Fed akan melakukan pertemuan kembali pada 31 Oktober hingga 1 November 2017. Namun diperkirakan The Fed belum akan menaikkan suku bunga pada pertemuan tersebut. Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Desember meningkat menjadi 70% dari sebelumnya 40%, setelah Chairman The Fed Janet Yellen menyatakan bahwa The Fed harus terus menaikkan suku bunga secara bertahap untuk menghadapi ketidakpastian pasar.
• ECB memperkirakan laju inflasi di area euro akan turun pada awal 2018. Namun diperkirakan inflasi kembali akan meningkat menuju targetnya pada akhir tahun. Diharapkan laju inflasi dapat bergerak secara terkendali agar mendukung laju perekonomian. Inflasi diperkirakan turun hingga 0,9% pada kuartal pertama, jauh dari target ECB 2%. ECB memperkirakan inflasi pada tahun 2017 akan mencapai rata-rata 1,5% dan sebesar 1,2% pada 2018.
• Pertemuan ECB akan dilakukan pada 26 Oktober. Pasar akan menantikan apakah pada pertemuan tersebut ECB akan memutuskan untuk menghentikan atau memperpanjang program pembelian obligasi ECB sebesar 60 miliar euro per bulan yang akan berakhir pada Desember 2017.

Domestic Economic Outlook
• BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2017 mulai membaik pada beberapa sektor. Perbaikan permintaan domestik terutama pada konsumsi rumah tangga terlihat dari membaiknya penjualan ritel dan penjualan barang-barang tahan lama. Dari data penjualan mobil dan sepeda motor di pasar domestik pada bulan Juli dan Agustus trennya mengalami kenaikan setelah pada bulan Juni mengalami penurunan yang cukup signifikan.
• Bank Indonesia memproyeksikan inflasi pada akhir tahun 2017 dapat terjadi pada kisaran 3,5%-3,8%. Kisaran inflasi di bawah 4% tersebut dapat tercapai jika pengendalian harga semakin baik. Inflasi menjelang akhir tahun biasanya cenderung meningkat seiring dengan adanya musim liburan serta adanya hari Natal dan Tahun Baru.
• Pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan berpotensi berfluktuasi dengan kecenderungan melemah seiring dengan meningkatnya ekspektasi akan kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Desember mendatang.
• Hingga Agustus 2017, porsi utang pemerintah Indonesia mencapai Rp3.825,79 triliun, yang terdiri dari SUN Rp2.563,24 triliun (67%), pinjaman Rp737,85 triliun (19,3%) dan SBSN Rp524,71 triliun (13,7%). Porsi utang itu didominasi oleh utang dalam mata uang rupiah 59%, USD 29%, yen Jepang 7%, euro 4%, SDR 1% dan beberapa valuta asing lain 1%.

Indices Performance as of September 2017
• Selama bulan September lalu, indeks Dax Jerman mengalami kenaikan terbesar yaitu 6,41% mom. Sedangkan indeks Strait Times mengalami koreksi terbesar yaitu 1,75% mom. Selama periode Januari-September 2017, indeks Hang Seng masih membukukan kenaikan terbesar yaitu 25,24% ytd, meskipun lebih rendah dibandingkan periode hingga Agustus 2017 yang sebesar 27,13% ytd.
• Selama bulan September lalu, indeks Dow Jones menguat 2,08% mom, indeks S&P500 naik 1,93% mom dan Nasdaq Composite meningkat 1,05% mom. Sedangkan selama periode Januari-September 2017, indeks Dow Jones +13,37%, indeks S&P500 +12,53% dan Nasdaq Composite +20,67%. Penguatan indeks antara lain dipicu oleh ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan rencana pemangkasan pajak oleh Presiden Trump.
• Selama bulan September, IHSG membukukan kenaikan sebesar 0,63% mom. Sedangkan selama periode Januari-September 2017, IHSG menguat sebesar 11,41% ytd.
• Sektor perkebunan mengalami kenaikan terbesar selama bulan September, yaitu menguat 4,24% mom. Sedangkan selama periode Januari-September 2017, sektor keuangan menyumbangkan kenaikan terbesar, yaitu 24,85% ytd. Sedangkan sektor perkebunan masih mengalami pelemahan terbesar hingga September 2017.

Market Outlook On October 2017
• Pergerakan indeks di bursa Wall Street diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh data ekonomi AS, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sekali lagi pada tahun ini, serta harapan akan pelaksanaan rencana pemangkasan pajak oleh Presiden Trump. Pasar juga akan mencermati laporan keuangan triwulan ketiga yang akan mulai dirilis pada bulan ini. Selain itu pasar akan mengikuti perkembangan ketegangan politik antara AS dan Korea Utara.
• Pergerakan IHSG pada bulan Oktober selain dipengaruhi oleh sentimen eksternal, diperkirakan akan dipengaruhi juga oleh perkembangan data ekonomi domestik seperti laju inflasi yang masih relatif terkendali, potensi penurunan suku bunga perbankan setelah BI menurunkan BI 7 day RR rate sebanyak dua kali berturut-turut, serta data pertumbuhan ekonomi triwulan ketiga. Selain itu pasar juga akan mencermati earning season triwulan ketiga yang akan dimulai pada pekan kedua bulan Oktober.
• Pada penutupan bulan September, IHSG berada pada level 5900. Pada awal bulan Oktober, IHSG melanjutkan kenaikannya dan mencapai rekor tertinggi baru di 5965. Sehingga target IHSG pada level 6190 berpotensi akan tercapai. Jika kondisi eksternal dan ekonomi mendukung serta laporan keuangan emiten lebih baik dari perkiraan, diperkirakan level tersebut dapat dilewati. Namun perlu diwaspadai pelemahan rupiah akibat penguatan dollar AS terhadap mayoritas mata uang lainnya. Cermati perbankan (BBNI, BMRI, BBRI, BBCA, BBTN), pertambangan (ADRO, PTBA, ITMG, HRUM, DOID, UNTR, MEDC), konstruksi (PTPP, WIKA, WSKT, WSBP), infrastruktur dan yang terkait serta konsumsi (ASII, UNVR, INDF, ICBP, KLBF)

Technical View
• Cermati saham BBCA, BSDE, INDF, SMRA, BBNI

Published on 2017-10-04 14:07:53 (GMT +7)

Global Info Regional

Global Info Currency

Global Info Commodity

Links

INFO

PT. Waterfront Sekuritas Indonesia
Memberikan layanan atas transaksi
Repurchase Agreement (REPO)"
PT. Waterfront Sekuritas Indonesia Terdaftar dan Diawasi Oleh





INFO TERBARU
Mulai 26 november 2018 , Penyelesaian transaksi bursa di pasar reguler menjadi 2 hari bursa (T+2)